Tradisi Nyadran di Padukuhan Kalisonggo Pererat Silaturahmi dan Lestarikan Warisan Budaya
Kalisonggo – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti Makam Kalisonggo, Padukuhan Kalisonggo, pada Jumat (10/7/2026) setelah Salat Jumat. Warga Padukuhan Kalisonggo bersama warga sekitar yang memiliki keluarga atau ahli waris yang dimakamkan di kompleks pemakaman tersebut berkumpul untuk mengikuti tradisi nyadran. Kegiatan yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi momentum untuk mendoakan para leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Sebelum pelaksanaan nyadran, warga Padukuhan Kalisonggo bergotong royong membersihkan area Makam Kalisonggo pada Kamis (9/7/2026). Kerja bakti tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan makam sekaligus wujud penghormatan kepada para leluhur. Semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian tradisi nyadran.
Pada hari pelaksanaan, setiap keluarga membawa tumpeng yang berisi kluban, yaitu aneka sayuran yang disajikan dengan parutan kelapa berbumbu, serta telur rebus. Tumpeng-tumpeng tersebut ditata bersama di area makam sebelum rangkaian doa dimulai. Hidangan sederhana tersebut telah menjadi salah satu ciri khas tradisi nyadran di Padukuhan Kalisonggo yang terus dipertahankan hingga sekarang sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Rois Padukuhan Kalisonggo. Dalam suasana yang khusyuk, seluruh peserta memanjatkan doa kepada Allah SWT agar para leluhur yang telah wafat memperoleh ampunan, rahmat, dan tempat terbaik di sisi-Nya. Doa juga dipanjatkan untuk memohon keselamatan, kesehatan, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Usai doa bersama, warga menikmati tumpeng yang telah dibawa masing-masing dalam suasana penuh keakraban. Momen tersebut menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan, memperkuat silaturahmi, serta memperkokoh rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Kehadiran warga dari berbagai wilayah yang masih memiliki ikatan keluarga dengan para leluhur di Makam Kalisonggo turut mencerminkan eratnya hubungan sosial yang terus terjaga lintas generasi.
Tradisi nyadran tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan dan sosial, tetapi juga merupakan bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para pendahulu. Melalui kegiatan ini, generasi muda dapat mengenal tradisi yang telah berlangsung sejak lama sekaligus memahami pentingnya menghormati leluhur, menjaga kerukunan, dan menumbuhkan semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Tradisi nyadran menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Padukuhan Kalisonggo. Melalui kebersamaan, doa, dan semangat gotong royong, tradisi ini diharapkan tetap lestari serta menjadi penguat nilai persaudaraan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Posting Komentar